Posted by: pilkadalampung | July 26, 2007

Kasus Korupsi:Kejati Periksa Konsultan Herda

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Kasus korupsi proyek jalan Sanggi Tanggamus–Bengkunat Lampung Barat senilai Rp11 miliar lebih terus bergulir. Rabu (25-7), jaksa penyidik Kejati Lampung memeriksa Teguh (50), konsultan Herda Carter Indonesia.

Warga Tangerang, Provinsi Banten, itu dimintai keterangan sebagai saksi dalam dokumen back up quality, yang merupakan salah satu syarat untuk mencairkan dana.

Kepala Seksi Penerangan Hukum dan Hubungan Masyarakat (Kasi Penkum dan Humas) Kejati, Hutamrin, menjelaskan sebagai konsultan, Herda Carter Indonesia dibayar Rp280 juta untuk mengontrol kualitas proyek jalan Sanggi–Bengkunat.

Dari hasil pemeriksaan sementara, Teguh mengaku tidak pernah menandatangani dokumen back up quality itu. Siapa yang menandatanganinya sehingga bisa mencairkan dana, Hutamrin mengatakan tengah diselidiki. Jaksa penyidik masih akan memeriksa sejumlah saksi lainnya.

Hingga kemarin, Kejati sudah memeriksa sekitar 20 orang saksi dan tidak menutup kemungkinan akan ada tersangka baru selain Firdaus dan Wawan. “Bisa iya bisa tidak ada tersangka lain, tapi sekarang pemeriksaan masih berjalan,” jelas Hutamrin.

Kepada Lampung Post Teguh mengatakan dia datang dari Tangerang dan tiba di Kejati Lampung untuk memenuhi panggilan jaksa sekitar pukul 08.00. Sebagai konsultan yang memiliki tanggung jawab atas kualitas kontrol proyek tersebut, Teguh menyatakan belum pernah menandatangani dokumen back up quality. “Saya bersumpah belum pernah menandatangani dokumen kualitas kontrol. Tanda tangan yang ada di sana jauh berbeda dengan tanda tangan saya,” ujar Teguh, kemarin.

Dia mengaku lebih lega setelah menjalani pemeriksaan selama dua jam di Kejati Lampung. “Sekarang saya sudah lega, enggak seperti tadi, Pak, siapa sih yang tidak dag dig dug dipanggil jaksa,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, Kejaksaan Tinggi Lampung telah memeriksa 12 saksi, terkait dugaan korupsi pada proyek jalan Sanggi–Bengkunat, Tanggamus, sepanjang 7,5 kilometer.

Penyidikan proyek bermasalah yang dibangun dua perusahaan join yaitu PT Usaha Remaja Mandiri (URM) dan PT Bumi Lampung Persada (BLP) senilai Rp11.136.130.000 tersebut melibatkan sekitar 30 orang.

Menurut Hutamrin, dalam penyidikan, Kejati dibantu tim ahli dari Bandung dan tim dari Balai UPTD Dinas Pekerjaan Umum Daerah (Tanggamus).

Dugaan korupsi tercium setelah pihak kejaksaan tinggi melakukan penyelidikan sejak Januari 2007 hingga sekarang. Hasil sementara, Oktober 2006, proyek yang menelan biaya miliaran rupiah ini telah dilakukan penyerahan tahap pertama (PHO). Tetapi setelah diserahkan 100 persen dan masih dalam pemiliharaan hingga 4 April 2007, ternyata jalan tersebut hancur, dan yang terlihat tinggal tanahnya. Pihak Kejati kemudian melakukan peninjauan Mei 2007, tetapi jalan masih tetap rusak. “Kami meneliti bagaimana dan kenapa kerusakan jalan tersebut?, tandasnya.

Untuk mengungkap dugaan koruspsi itu, Kajati menunjuk lima jaksa penyidik, yaitu Maryono, SH.MH, A. Kohar SH, M. Syarifudin SH. Hutamrin, SH dan Misna Adia, dibantu tim ahli yang idependen. Pekan ini tim tersebut terjun langsung ke proyek. “Kita akan meneliti secara kuliti maupun kuantitinya,” ujar Hutamrim. n RIS/K-1


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: