Posted by: pilkadalampung | August 6, 2007

Posisi Mahasiswa dalam Pilkada Lampung

Keluarga Besar Himpunan Pelajar Mahasiswa Lampung (Hipmala) Yogyakarta mendeklarasikan dukungan terhadap Sjahroedin Z.P.-Suryono S.W. sebagai calon gubernur dan wakil gubernur Lampung dalam pemilihan kepala daerah tahun 2008. Dukungan iti dirilis ke Lampung Post dan dimuat pada Kamis (2-8).

Sebagai mahasiswa, saya kaget membaca berita ini. Bagaimana tidak, organisasi mahasiswa masuk dalam pusaran politik dan dengan terang-terangan mendukung seorang tokoh untuk maju dalam bursa pencalonan gubernur. Begitu murahkah harga sebuah dukungan mahasiswa, sehingga dengan tergesa-gesa mendukung pencalonan Gubernur Lampung? Begitu hebatkah tokoh yang mereka dukung, sehingga sebuah organisasi mahasiswa juga turut meributkan pencalonan Gubernur Lampung?

Di tengah-tengah kesibukan partai-partai politik daerah untuk meramaikan persaingan kursi gubernur Lampung, haruskah organisasi mahasiswa juga turut dan larut dalam kesibukan tersebut.

Ketika pemilihan umum tahun 2004, partai-partai politik harus mengemis agar diizinkan melakukan kampaye dalam kampus. Tapi tetap saja gerakan mahasiswa tidak sepakat dengan kampaye politik di dalam kampus. Para elite politik tahu betul bahwa suara mahasiswa dan dukungan mahasiswa merupakan kekuatan tersendiri meraih kemenangan dalam pemilu. Mahasiswa sebagai kalangan terdidik dan gerakannya masih dipercaya oleh rakyat diharapkan bisa merebut simpati rakyat. Sehingga para elite politik terlebih dulu ingin merebut simpati mahasiswa.

Tapi yang terjadi dengan Hipmala Yogyakarta, dengan sangat mudah dan murahnya memberikan suara dan dukungannya kepada seorang elite politik.

Apa sebenarnya kepentingan organisasi mahasiswa tersebut? Apakah ada yang ditawarkan para elite politik terhadap mereka? Apa pentingnya dukungan ini terhadap kebaikan masyarakat Lampung?

Begitu banyak Pertanyaan timbul sebagai telaah kritis gerakan yang dilakukan Hipmala, yang notabenenya organisasi pelajar dan mahasiswa.

Dengan deklarasi mendukung salah satu tokoh untuk maju menjadi gubernur Lampung, akan membuat persepsi negatif terhadap mahasiswa. Mahasiswa akan dicap berafiliasi terhadap tokoh dan partai tertentu. Mahasiswa tidak lagi dianggap sebagai gerakan moral murni, tapi sudah menjadi gerakan politik yang pragmatis.

Dukungan politik seperti yang dilakukan Hipmala akan membuat jatuh posisi tawar mahasiswa. Gerakan mahasiswa akan diremehkan dan makin tidak diperhitungkan oleh elite politk penguasa. Gerakan yang diperhitungkan dalam artian gerakan mahasiswa ikut dilibatkan ketika pemerintah akan mengeluarkan kebijakan yang menyangkut hajat hidup rakyat. Bukankah gerakan mahasiswa diharapkan bisa mengubah kebijakan penguasa yang tidak prorakyat, dan mampu memberikan masukan ide dan gagasan, sehingga kebijakan yang dibuat benar-benar menyentuh rakyat.

Mahasiswa seharusnya bangga dengan gerakan moral murni yang tumbuh dari sikap kritis dan logika berpikir yang matang terhadap sebuah permasalahan bangsa. Tapi yang terjadi saat ini adalah kebanggaan dalam sebuah gerakan yang sudah terkooptasi dengan kepentingan politik. Seharusnya mahasiswa malu jika ternyata gerakan yang dilakukan sudah berembel dan didorong oleh kepentingan tertentu. Embel-embel keuntungan dan kepentingan politk inilah yang nantinya menghancurkan citra emas mahasiswa yang telah dibangun elemen mahasiswa terdahulu, sebagai elemen gerakan murni untuk kepentingan bangsa.

Ketika gerakan mahasiswa sudah didorong dengan semangat kepentingan politik, yang terjadi kemudian adalah tumpulnya sikap kritis dan mengendurnya semangat perlawanan terhadap penguasa. Selanjutnya mahasiswa hanya akan dijadikan sebuah boneka suruhan yang selalu tunduk dan patuh terhadap kepentingan penguasa.

Yang perlu diingat, mahasiswa merupakan oposan sejati terhadap pemerintah. Oposan sejati yang selalu kritis terhadap kebijakan pemerintah. Ketika ada kebijkan yang dianggap merugikan rakyat, mahasiswalah yang pertama kali harus menentang kebijakan itu.

Mahasiswa jangan terjebak dalam gerakan politik pragmatis demi sebuah kepentingan. Di mana letak jati diri sebagai mahasiswa ketika sudah terlibat dukung mendukung terhadap tokoh tertentu. Apakah kita bisa menjamin orang yang didukung mampu membawa perubahan di Lampung.

Sudah hilangkah kekuatan mahasiswa sebagai sebuah gerakan oposisi sejati, hingga tidak bisa melihat lebih dalam dan kritis terhadap permasalahan daerah. Lampung yang menjadi provinsi termiskin kedua setelah Nanggroe Aceh Darussalam tidakkah menjadi agenda mahasiswa, bahwa ternyata masih banyak rakyat Lampung yang belum memperoleh kehidupan yang layak.

Di bidang pendidikan juga masih banyak masalah. Baik pemerintah pusat maupun pemerintah Provinsi lampung, kedua-duanya tidak menganggarkan 20 persen dalam APBN dan APBD untuk pendidikan. Padalah anggaran pendidikan sebesar 20 persen adalah perintah konstitusi. Dan, yang masih hangat adalah kasus imbauan kepala Dinas Pendidikan Provinsi Lampung agar sekolah membeli majalah Cerdas dari uang bantuan operasional sekolah (BOS). Permasalahan-permasalahan inilah yang seharusnya memantik gerakan mahasiswa.

Gerakan mahasiswa jangan terjebak dalam kepentingan para elite politik. Para elite politik menempuh segala macam cara agar dapat mempertahankan kekuasaannya. Jangan sampai gerakan ini menjadi corong dan alat mempertahankan kekuasaan para elite, tanpa kita sadari bahwa kita telah menjadi alat.

Sikap kritis mahasiswa jangan sampai tergadai oleh kepentingan yang cenderung pragmatis. Hanya orang-orang yang berorientasi kekuasaan yang cenderung bersikap pragmatis.

Mahasiswa yang dibekali dengan kepekaan intelektual harusnya mampu mengasah dan mengembangkan kepekaannya menjadi sebuah energi untuk mewujudkan tujuan perjuangan dan pergerakannya. Semangat perubahan harus terus dikumandangkan dan diperjuangkan. Jangan sampai suara lantang mahsiswa malah disetir di bawah kendali elite.

Mahasiswa dan Pilkada

Perebutan kursi gubernur Lampung tahun 2008 nanti adalah pemilihan gubernur secara langsung yang pertama kali di Lampung. Pada pemilihan gubenur Lampung sebelumnya tahun 2004, masih dipilih oleh DPRD Lampung. Beberapa kabupaten di Lampung juga telah mengadakan pemilihan bupati secara langsung. Masing-masing partai politik akan berlomba-lomba memenangkan pemilihan. Bahkan dengan segala macam cara mereka berusaha merebut dukungan rakyat.

Gerakan mahasiswa jangan sampai hanya menjadi alat partai politik dalam merebut dukungan rakyat. Gerakan mahasiswa harus menjadi gerakan terdepan yang terus memberikan pembelajaran dan penyadaran kepada rakyat, bahwa suara yang diberikan dalam pilkada nanti harus berdasarkan pertimbangan kinerja, visi dan misi, serta track record dari para calon.

Setiap calon pasti akan memberikan janji-janji politk yang berpihak ke rakyat. Untuk merebut simpati rakyat, calon membuat program bohong dan palsu yang berpura-pura berpihak kepada rakyat. Masing-masing calon akan mengampanyekan diri melalui partai politik, media, organisasi masa pendukung, agar rakyat memilihnya. Segala cara ditempuh melalui alat-alat politik, termasuk melakukan politik uang, black campaign terhadap calon lain.

Sebagai golongan menengah terdidik yang bergerak atas dorongan nurani, gerakan mahasiswa diharapkan memberikan segala informasi yang tidak diketahui rakyat, tentang rekam jejak calon. Rakyat harus memilih secara merdeka tanpa desakan dan tekanan apa pun. Mahasiswa harus memberikan telaah keritis terhadap visi, misi, dan program kerja masing-masing calon. Sehingga para elite politik yang mempunyai rekam jejak yang buruk dan busuk tidak terpilih kembali dalam pemilihan kepala daerah.

Para calon kepala daerah harus disadarkan bahwa suara rakyat sangat mahal. Suara rakyat adalah bentuk semua harapan akan perbaikan kehidupan dan kesejahteraan. Ketika seorang kepala daerah terpilih atas dukungan rakyatnya, harapan akan perbaikan hidup dilimpahkan ke kepala daerah. Kebijakan kepala daerah yang tidak berpihak kepada rakyat adalah bentuk dari pembangkangan terhadap suara rakyat. Jika itu terjadi, rakyat bisa mencabut suara dan mandatnya untuk menggulingkan kepala daerah.

Padli Ramdan – Pemimpin Redaksi UKPM Teknokra Universitas Lampung|LampungPos|


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: